Rabu, 15 September 2010

Senandung Hujan

Mengernyit membaui tanah basah
Menengadah
Mengharap sedekah
Atau berkah

Bergelung diantara rinai hujan
Telingaku tajam
Mendengarkan
Setiap kemungkinan
Setiap kepakan sayap

Mengaharap Mikail
Turun ke bumi
Membawa rezeki
Tercurah atas kehendak Ilahi

Dalam hati
Lengking mengikik
Doaku tercapai

Kudengar kepakan sayap
Kulihat cahaya menyertainya
Aku terpesona

Berharap Mikail
Membawa berkah langit
Ternyata el maut
Aku terpukau dan terhanyut

El maut menyodorkan berita
Bersampul hitam legam
Jiwaku meretih saat jasad terpaksa menerima
Sedetik kemudian aku terbakar
Walau hujan jelas menderas

Inilah rezeki terakhir
Langit telah menanti
Dengan gelegak samudra api
Menelan jiwaku yang serupa kutil

Peri Penyanyi

Dalam dongeng, para peri selalu terlihat cantik, bersayap, berkilau, dan mereka selalu terlihat ajaib. Tapi ini bukan dongeng, cerita ini tentang para peri sungguhan.

Hal paling penting yang harus kau ketahui tentang para peri sungguhan adalah yang disebutkan di bawah ini. Dengarkan baik-baik. Jangan pernah kaulupakan apa yang akan diungkapkan berikut ini.

Para peri sungguhan mengenakan pakaian biasa dan tampak seperti manusia biasa. Mereka tinggal di rumah biasa dan melakukan pekerjaan biasa.

Peri sungguhan menyayangi anak-anak dengan luar biasa, berkobar-kobar, dan lebih dahsyat daripada yang bisa kaubayangkan. Peri sungguhan menghabiskan seluruh waktunya untuk memberi cinta dan kasih sayang pada anak-anak. Biasanya mereka bekerja untuk menyenangkan anak-anak. Seperti penjual permen coklat, pembuat mainan, guru kita di taman kanak-kanak, pendongeng, dan yang lainnya.

Dengan kasih sayangnya yang selalu berkobar peri sungguhan mampu menciptakan keajaiban lewat tangan-tangan lembutnya yang tak pernah lelah. Aku adalah salah satu keajaiban itu, namaku Sisilia, aku lebih dikenal sebagai peri yang ada dalam dongeng. Aku tercipta untuk menjaga mimpi anak-anak agar kelak mereka dewasa mereka tetap percaya bahwa keajaiban itu memang ada.

Peri sungguhan tidak pernah ketahuan, mereka bekerja seperti manusia pada umumnya. Tidak ada keinginan untuk membocorkan rahasia mereka. Mereka bekerja dengan sungguh-sungguh, dalam hati mereka hanya ada keinginan untuk membahagiakan anak-anak.

Karena itulah mereka sulit sekali dikenali.

***

Alisa dan Alexa dua anak kembar, dengan riang bermain bersama. Mainan mereka banyak sekali, berwarna-warni, beraneka bentuk. Macam-macam boneka lucu, boneka Barbie, peralatan masak-masakan, gaun-gaun cantik, dan buku-buku dongeng.

Ibu mereka bekerja sebagai pembuat, dan penjual mainan anak-anak. Sehingga mereka selalu mendapatkan mainan apapun yang mereka inginkan.

“Kak Alis,” rengek Alexa manja.

“Kenapa Al?” jawab Alisa sambil menyisir rambut Barbie nya.

“Aku bosan, aku nggak mau main Barbie ini lagi.”

“Loh kenapa? Ini kan bagus, baru dibelikan Ibu kemarin.”

“Pokoknya bosan, bosan, bosan. Alex mau yang lebih bagus. Teman Alex di sekolah punya boneka peri yang bisa menyanyi.”

“Boneka peri yang bisa menyanyi?”

“Iya, boneka itu baguuss banget, cantik, gaunnya indah.”

“Tapi ini kan masih bagus dik,” kata Alisa mencoba meyakinkan adiknya.

“Nggak. Ini Cuma mainan usang, Alex mau minta mama lagi.”

Namun usaha Alisa sia-sia, Alexa memang dari dulu selalu seperti itu, tidak puas dengan semua mainan-mainan yang dimilikinya, selalu minta yang terbaru, tidak mau kalah dengan teman-temannya di sekolah. Tidak rela jika teman-temannya mempunyai mainan lebih bagus daripada dia.

Alexa menghampiri mamanya yang sedang membuat rumah-rumahan untuk boneka Barbie. Rumah-rumahan itu dibuat dengan penuh kesabaran, ketelitian, dan kesunguhan untuk dipersembahkan pada anak tersayang sebagai hadiah ulang tahun. Namun Alisa dan Alexa tidak mengetahui rencana itu.

“Maa,” panggil Alexa sambil memilin-milin rambut ikalnya yang penjang.

“Iya sayang,” jawab mama sambil memandang lekat-lekat kea rah Alexa. Mama hafal jika Alexa memilin-milin rambutnya seperti itu biasanya ia menginginkan sesuatu.

“Maa.. Alex mau boneka baru.”

 “Boneka baru?” tanya mama sambil mengernyit.

”Iya Ma, Alex mau boneka peri yang bisa menyanyi.”

“Boneka peri?” tanya mama bingung. “Kemarin kan baru mama belikan boneka baru sayang. Kamu sendiri kan yang meminta boneka itu. Kalau mama mau membelikan boneka itu, Alex janji nggak akan minta boneka baru lagi.”

“Iyaaa, tapi kaaan..”

“Mama sudah menepati janji, sekarang Alex juga harus menepati janji pada Mama,” tuntut mama pada Alexa.

“Tapi Maaa,” rengek Alexa sambil memasang wajah memelas.

“Nggak ada tapi tapi,” jawab mama tegas.

“Mama jahat!” teriak Alexa sambil melemparkan bonekanya di depan mama.

Mama tertegun, tidak percaya bahwa putri kesayangannya tega melakukan hal itu di depannya. Mama memungut boneka yang dijatuhkan Alexa, merapikan gaunnya, menata rambutnya, dan menemukan bahwa tangan boneka itu patah.

Alisa melihat adegan itu diam-diam dari celah pintu, melihat wajah sendu mama, tangan lembut mama yang merapikan dan membetulkan boneka itu dari kerusakan. Boneka itu bisa diperbaiki namun pasti akan meninggalkan bekas, seperti luka hati mama yang akan tetap membekas.

Keesokan harinya, Alexa masih tetap marah. Alexa tidak mau sarapan, tidak mau berbicara dengan mama dan Alisa. Alexa memasang wajah cemberut, dan mulutnya monyong ke depan.

“Ayo sayang makan dulu,” kata mama pada Alexa. “Nanti kan Papa pulang dari luar kota, pasti Papa bawa oleh-oleh buat kamu sayang,” terang mama pada Alexa.

Namun Alexa tetap diam, tak mengacuhkan perkataan mama.

“Ayo dik, sarapan dulu,” Alisa menimpali.

“Nggak mau, Alex nggak mau makan kalau belum dibeliin boneka itu,” teriak Alexa ketus.

“Alex jangan keterlaluan sayang, Mama nggak suka kamu seperti ini. Ayo minta maaf,” jawab mama tegas.

“Alex nggak mau!” teriak Alexa sambil berlari ke kamarnya.

Alisa dan mama saling berpandang-pandangan. Mama bingung kenapa Alexa tidak seperti Alisa yang penurut.

Ring ring ring

Telepon mama berbunyi nyaring. Alisa pun meninggalkan mamanya dengan kesibukan pekerjaannya. Sore harinya mama pergi, meninggalkan Alexa dan Alisa sendirian bersama asisten mama.

Asisten mama, mbak Sari sedang bekerja di ruang kerja mama. Si kembar dan mbak Sari sering ditinggal bertiga, keakraban mereka membuat mbak Sari sudah seperti seorang kakak bagi si kembar. Mbak Sari rupanya sedang sibuk mengerjakan proyek pesanan pelanggan. Alisa masuk ke ruangan tersebut dan melihat-lihat hasil kerja mama.

“Hai Alis,” sapa mbak Sari ramah.

“Hai kak,” jawab Alis sopan. “Kakak sedang mengerjakan apa?”

“Ini proyek baru, miniatur taman peri.”

“Taman peri?”

“Iya, di dalamnya ada boneka peri yang bisa menyanyi. Kamu pasti suka, coba lihat lebih dekat lagi,” kata mbak Sari lembut.

“Ah,” teriak Alisa terkejut. “Ini kan boneka peri yang diinginkan adik.”

“Oh..”

“Wah aku harus kasih tahu Alex nih. Sebentar ya kak,” kata Alisa dengan mata berbinar-binar.

Sesaat kemudian, Alisa sudah menggandeng Alexa ke ruang kerja mama. Ruang itu kosong, tidak ada mbak Sari di sana.

“Lihat Al, itu di sana bonekanya.” Tunjuk Alisa.

Seketika itu juga wajah Alexa berubah ceria. Tangannya tak sabar menggapai boneka itu.

“Jangan, itu bukan buat kamu,” larang Alisa dengan wajah khawatir.

“Sebentar kak..” jawab Alexa sambil lalu.

“Tapi, hati-hati ya dik..” kata Alisa dengan khawatir. “Ini proyek pesanan pelanggan Mama, kamu mengerti kan?”

“Iya.. Alex tahu.”

Alexa kelihatan senang dengan boneka yang ada di tangannya. Matanya berbinar-binar menunjukkan kepuasan. Lupa dengan aksi ngambek yang dilakukannya tadi.

“Al, sebentar lagi Mama pulang, ayo taruh di tempatnya tadi.”

“Sebentar kak.”

“Cepat Al.”

Buru-buru Alexa menaruh boneka itu, namun karena tidak hati-hati boneka itu terjatuh.

PRAAK.

“Yaah Alex, gimana sih? Kok nggak hati-hati,” kata Alisa sambil memungut boneka itu. Alisa memeriksa boneka itu, ternyata jari-jarinya patah, dan tongkat sihirnya remuk menjadi serpihan.

“Kakak yang salah, kenapa menyuruh Al cepat-cepat tadi. Jadi gini deh,” jawab Alexa membela diri.

“Kok gitu, Adik kan yang jatuhin bonekanya tadi? Kok Kakak yang disalahin.”

“Nggak!” teriak Alexa marah.

“Ada apa ini?” tanya mama yang tiba-tiba sudah di ambang pintu.

“Mama!” teriak si kembar bersamaan.

“Ada apa sayang?” tanya mama lagi.
“Hm.. hm.. Kak Alis menjatuhkan boneka peri Mah,” jawab Alexa dengan wajah polos.

“Apa?” tanya mama terkejut.

“Bukan Ma, bukan Alis. Sungguh.”

“Bener Ma, lihat saja bonekanya sekarang ada di tangan Kak Alis,” sela Alexa membela diri.

Alisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bercucuran air mata. Tidak menyangka bahwa adiknya sendiri akan memfitnahnya seperti itu.

“Mama tidak mau tahu, kalian Mama hukum. Ayo sekarang cepat masuk ke kamar,” perintah mama tegas.

Malam itu Alexa tidak bisa tidur, dia terus memikirkan boneka peri yang bisa menyanyi. Kemudian Alexa turun dari tempat tidurnya dan pergi ke ruang kerja mama. Alexa melihat sinar keemasan menerobos celah pintu, dia semakin penasaran dan segera masuk ke ruangan itu.

Ternyata sinar itu berasal dari miniatur taman peri yang dibuat mama, Alexa mendekati mainan itu. Tampak seolah-olah menjadi hidup, pohon-pohon berayun-ayun tertiup angin, rumah-rumah jamur menebarkan aroma wangi, batu-batu serupa jeli warna-warni, dan yang lebih menakjubkan lagi boneka peri penyanyi terbang kesana kemari dan menyanyi dengan riang.

Alexa mengucek-ucek matanya, merasa dirinya masih bermimpi, ia pun mencubit tangannya sendiri.

“Aoo,” jerit Alexa lirih. Namun karena suara lirih itu, para peri menjadi berhenti menyanyi, semua kegiatan di taman peri seolah-olah menjadi beku.

Alexa diam tak bergeming menyaksikan keajaiban yang ada di depan matnya. Namun tiba-tiba dia dikejutkan oleh sebuah suara.

“Alexa.”

“Siapa?” tanya Alexa takut-takut.

“Kemarilah, mendekat padaku.” Suara itu berasal dari salah satu peri penyanyi.

Alexa mendekati peri tersebut, walaupun ada rasa takut, namun Alexa penasaran. Kenapa mainan yang semula tidak bisa bicara menjadi hidup seperti yang ada di buku-buku dongeng yang pernah dibacanya.

“Alexa, kenapa kau merusak ku?” tanya seorang peri, yang ternyata peri tersebut adalah boneka yang dijatuhkan Alexa tadi. Peri itu duduk di bawah pohon, kakinya lecet, tangannya lepas sebelah, dan remukan tongkat sihirnya berada di sampingnya. Peri itu tak mempunyai daya untuk bangkit.

“Kau?” jerit Alexa ngeri.

“Ya aku, yang kau jatuhkan tadi.”

“Aku tidak bersalah, Kakak yang salah.”

“Tidak mau meminta maaf, malah menyalahkan orang lain. Anak nakal, aku akan menghukummu,” kata peri penyanyi marah.

“Tidak, jangan!”

“Sudah terlambat, aku akan menghidupkan semua mainan yang sudah kau rusakkan dan kau buang.”

“Jangan, aku mohon peri yang baik, aku mengaku salah,” isak Alexa lirih.

Alexa menangis tersedu-sedu, namun tangisannya tidak dapat meredam suara merdu peri penyanyi yang mulai melantunkan nada-nada indah. Membangunkan ingatan Alexa tentang mainan-mainan yang sudah banyak dirusak dan disia-siakan olehnya.

Mainan-mainan itu benar-benar hidup, keluar dari ingatan Alexa. Mengitarinya, merintih, mencemooh, dan mengejarnya.

Ada Bubu beruang yang dihadiahkan mama pada saat ulang tahunnya yang kelima, matanya tinggal satu, wajah manisnya berubah menjadi seram.

“Alexa tolong aku, kembalikan mataku yang hilang,” rintih Bubu beruang.

“Tidak, jangaaaan,” teriak Alexa sambil menutup telinganya.

Pinky kelinci tidak mau kalah, mata merahnya hendak menerkam Alexa.

“Alexa, kau kemana sajaaa…aku kesepian di bawah kolong tempat tidurmu. Ayo bermainlah dengan mata merah ini,” lolong Pinky kelinci.

Alexa berlari sekuat tenaga, berusaha menghindari kejaran boneka-boneka malang itu.

“Alex..Alex..apakah kau masih ingat aku?” sela Pipi boneka kayu. Dari tangannya keluar tali-tali untuk membelit tubuh Alexa.

“Maafkan aku..maafkan,” rintih Alexa kemudian.

Tak ketinggalan Sally boneka Barbie, mengayun-ayunkan tangannya yang patah di depan wajah Alexa.

“Tolooong,” jerit Alexa ketakutan. “Tolooong, Mamaaa, Kak Alis. Tolooong.”

“Alex…Alex! bangun!”

“Tolong.”

“Ada apa dik? Kamu mimpi buruk ya?”

“Apa?” tanya Alexa bingung. “Aku di mana?”

“Di kamar, kamu mimpi buruk ya?”

“Kakak tolong aku. aku dikejar boneka-boneka itu,” raung Alexa sambil memeluk kakaknya. Keringat membanjir di sekujur tubuhnya.

“Tidak apa-apa, itu cuma mimpi.”

“Maafkan Alexa ya Kak. Al mengaku salah, besok Al akan bercerita pada Mama apa yang sebenarnya terjadi.”

“Iyaa..Kakak maafkan. Ayo sekarang tidur lagi.”

Beberapa saat kemudian Alisa dan Alexa kembali tidur. Namun Alexa tidak bisa tidur, dia memiringkan badannya ke kiri dan kanan. Otaknya masih memikirkan mimpi yang baru saja dia alami. Alexa kembali penasaran, dan memutuskan untuk pergi ke ruang kerja mama dan memastikan boneka-boneka peri itu memang tidak bisa hidup.

Alexa membuka pintu ruang kerja mama. Tidak ada sinar keemasan seperti yang ada di dalam mimpinya. Yang ada hanya boneka peri yang rusak. Alexa mengambil boneka tersebut, dan berbisik meminta maaf.

“Alexa.”

“Siapa?”

“Ini aku peri penyanyi,” jawab boneka di tangan Alexa. Boneka itu kini utuh kembali dan benar-benar hidup, cahaya keemasan mengelilingi tubuhnya.

“Kau hidup?” tanya Alexa terkejut. “Dan tubuhmu juga utuh kembali?”

“Ini berkat kau Alexa, meminta maaf dengan tulus. Terima kasih.”

“Tapi, kau peri sungguhan? Bukan mimpi?”

“Namaku Sisilia, aku adalah peri penyanyi dari istana Mimpi. Aku lahir dari tawa bahagia Ibumu pada saat kau dilahirkan,” terang peri Sisilia pada Alexa.

Alexa diam memperhatikan dengan seksama.

“Semua peri dilahirkan dari tawa paling tulus, Ibumu adalah peri yang sesungguhnya Alexa. Dia menyayangimu dengan tulus, kasih ibu tak akan pernah terputus meskipun kau berbuat nakal atau bandel. Namun ketahuilah, air mata Ibumu bisa memusnahkan aku dalam sekejab. Oleh karena itu selalu buatlah Ibumu bahagia. Maka aku akan tetap hidup, dan menemani mimpi-mimpimu. Kau mengerti?”

“Iya, peri Sisilia,” jawab Alexa patuh.

“Anak baik harus menurut apa kata orang tua.”

“Iya, peri Sisilia. Mulai sekarang Alex akan membahagiakan Mama. Agar Mama selalu tersenyum, dan bahagia. Terima kasih peri Sisilia,” kata Alexa tulus.

Keesokan harinya Alexa meminta maaf pada mama dan berjanji tidak akan nakal lagi.

“Mama senang, Alexa anak yang baik mau mengakui kesalahan, dan meminta maaf.”

Alexa dan Alisa hanya tersenyum-senyum memandang mama.

“Karena sekarang kalian sudah bertambah dewasa, Mama menghadiahkan ini untuk kalian. Selamat ulang tahun,” kata mama sambil menyerahkan sebuah bungkusan besar.

Alisa dan Alexa sangat terkejut, tidak menyadari bahwa hari ini adalah hari ulang tahun mereka. Kedua kakak beradik itupun membuka bungkus kadonya dengan bersemangat, ternyata isinya adalah rumah-rumahan boneka Barbie dan miniatur taman peri penyanyi lengkap dengan boneka peri penyanyi yang cantik-cantik.

“Terima kasih Ma,” kata Alisa dan Alexa sambil memeluk Mama dengan sayang.